Kenapa Turnover 0–90 Hari Masih Tinggi?
Banyak HR sudah merasa proses rekrutmen berjalan rapi: job posting jelas, proses seleksi lengkap, kandidat tampak antusias. Namun, dalam 0–90 hari pertama, karyawan baru mengajukan resign. Alasan yang muncul berulang: “tidak cocok dengan cara kerja di sini”, “tim kurang klik”, atau “budayanya tidak seperti yang saya bayangkan”.
Beberapa indikator umum yang sering muncul di 90 hari pertama:
- Onboarding terasa berat karena karyawan baru tidak nyaman dengan ritme kerja dan gaya komunikasi.
- Frekuensi konflik kecil meningkat (salah paham, defensif, tarik-ulur tanggung jawab).
- Engagement karyawan baru turun cepat: pasif saat meeting, lambat merespons, tampak menjaga jarak.
- Survei pulse check menunjukkan gap ekspektasi: kandidat membayangkan budaya kolaboratif, ternyata sangat hierarkis (atau sebaliknya).
Akar masalahnya sering bukan pada hard skill, tetapi mismatch budaya kerja. Artinya, proses culture fit assessment belum benar-benar tervalidasi, hanya mengandalkan “feeling cocok” saat interview.
Baca Juga: Validasi Culture Fit: Kurangi Salah Rekrut 30%
Dampak Bisnis dari Salah Menilai Culture Fit
Turnover 0–90 hari bukan sekadar angka di laporan HR. Ada konsekuensi bisnis nyata:
- Biaya rekrutmen ulang: iklan lowongan, waktu HR & user untuk interview, biaya psikotes/asesmen, hingga administrasi kontrak harus diulang.
- Penurunan produktivitas tim: ketika satu posisi kosong atau diisi oleh orang yang tidak cocok, tim lain ikut terbebani, target mundur, dan kualitas layanan menurun.
- Gangguan proses kerja & proyek: karyawan baru yang tidak fit budaya sering butuh pengawasan ekstra, memicu friksi, dan bisa menghambat kolaborasi lintas fungsi.
- Risiko reputasi employer brand: pengalaman buruk karyawan baru mudah menyebar melalui media sosial atau platform review kerja, sehingga kandidat potensial ragu melamar.
Bagi HR sebagai mitra strategis, kemampuan menilai budaya kerja kandidat dengan akurat menjadi kunci untuk mengurangi risiko tersebut. Di sinilah validasi culture fit yang terstruktur dan terukur menjadi penting.
Baca Juga: Validasi Culture Fit: Teknik Seleksi Minim Bias
Landasan Psikologi: Person-Organization Fit & Realistic Job Preview
Dalam Psikologi Industri & Organisasi, salah satu konsep kunci adalah Person–Organization Fit (P–O Fit), yaitu sejauh mana nilai, keyakinan, dan gaya kerja individu selaras dengan organisasi.
Dua konsep penting yang perlu dipahami HR:
- Value congruence: kesesuaian nilai inti antara kandidat dan organisasi (misalnya, integritas, cara mengambil keputusan, cara menyikapi konflik).
- Realistic Job Preview (RJP): pemberian gambaran nyata tentang pekerjaan, tantangan, dan budaya tim sejak awal proses seleksi, agar kandidat dapat menilai sendiri apakah mereka cocok.
Tanpa dua hal ini, mis-match budaya mudah terjadi. Ditambah lagi, proses interview sering terjebak pada bias psikologis:
- Halo effect: kesan positif dari satu aspek (misal, lulusan kampus ternama atau sangat komunikatif) membuat interviewer menilai kandidat “pasti cocok” di semua aspek, termasuk budaya kerja.
- Similarity bias: interviewer cenderung menyukai kandidat yang “mirip dirinya” (cara bicara, hobi, latar belakang), lalu menyimpulkan kandidat sudah culture fit, padahal belum tentu cocok dengan budaya organisasi secara keseluruhan.
Di sinilah HR perlu berperan sebagai pengendali proses, tidak hanya mengandalkan intuisi, tetapi merancang alat ukur culture fit yang obyektif, terstruktur, dan terdokumentasi.
Baca Juga: Validasi Culture Fit Tanpa Bias di Proses Rekrutmen
Langkah Sistematis: Dari Nilai Perusahaan ke Pertanyaan Interview
Berikut strategi lengkap yang bisa digunakan HR untuk mengurangi turnover 90 hari melalui validasi culture fit yang lebih terukur.
1. Definisikan Nilai & Perilaku Inti dalam Indikator yang Teramati
Banyak perusahaan punya nilai di dinding (misal: Integritas, Kolaborasi, Agility), tapi belum diterjemahkan ke perilaku konkret. Padahal, interview dan asesmen hanya efektif jika HR tahu apa yang harus dicari.
Langkahnya:
- Ambil 3–5 nilai inti perusahaan.
- Diskusikan dengan pimpinan & perwakilan karyawan berprestasi: “Perilaku seperti apa yang mencerminkan nilai ini dalam keseharian?”
- Susun indikator observable (terlihat/terdengar), misalnya:
- Integritas: berani menyampaikan risiko pada atasan, tidak memanipulasi data meski ada tekanan target.
- Kolaborasi: aktif menawarkan bantuan lintas departemen, tidak menyalahkan tim lain ketika terjadi kesalahan.
- Agility: cepat menyesuaikan prioritas ketika ada perubahan mendadak, mencari cara baru ketika cara lama tidak efektif.
Indikator inilah yang nantinya menjadi dasar pertanyaan interview culture fit dan rubric penilaian.
2. Mapping Peran vs Budaya Tim (Subculture)
Budaya perusahaan sering kali tidak seragam. Setiap departemen memiliki subculture berbeda (misalnya, tim sales cenderung agresif & dinamis; tim finance cenderung terstruktur & hati-hati).
HR perlu melakukan mapping budaya peran & tim:
- Identifikasi 2–3 karakteristik budaya dominan untuk setiap tim (contoh: tingkat kemandirian, kecepatan, formalitas komunikasi).
- Tanyakan pada atasan langsung: “Orang seperti apa yang biasanya sukses di tim ini? Dan orang seperti apa yang biasanya kesulitan bertahan?”
- Jadikan hasil mapping sebagai filter tambahan saat menilai kandidat, sehingga culture fit bukan hanya dengan perusahaan, tetapi juga dengan tim dan gaya kepemimpinan atasan.
3. Desain Interview Berbasis Perilaku & Pertanyaan Situasional
Cara menilai budaya kerja kandidat yang paling efektif adalah melalui kombinasi behavioral interview dan situational interview.
Contoh pertanyaan interview culture fit berbasis perilaku (behavioral):
- Nilai: Kolaborasi
“Ceritakan situasi ketika Anda berbeda pendapat dengan rekan tim dalam proyek penting. Apa yang Anda lakukan, dan bagaimana hasil akhirnya?” - Nilai: Integritas
“Pernahkah Anda berada dalam posisi di mana atasan meminta sesuatu yang menurut Anda berisiko melanggar aturan atau etika? Apa yang Anda lakukan?” - Nilai: Agility
“Berikan contoh ketika Anda harus mengubah rencana kerja secara mendadak. Bagaimana Anda menyesuaikan diri?”
Contoh pertanyaan situasional:
- “Bayangkan Anda sedang mengerjakan tugas penting, lalu atasan meminta prioritas baru yang sama mendesaknya. Apa langkah pertama yang akan Anda lakukan?”
- “Tim Anda memiliki anggota dengan gaya komunikasi sangat langsung, yang kadang membuat orang lain tersinggung. Bagaimana Anda akan menyikapinya?”
Fokus interviewer adalah menggali contoh perilaku nyata di masa lalu dan cara berpikir kandidat, bukan hanya jawaban normatif.
4. Gunakan Scoring Rubric 1–5 dengan Anchor Perilaku
Tanpa rubric, penilaian culture fit mudah kembali menjadi “suka atau tidak suka”. HR perlu membuat skala 1–5 dengan definisi perilaku jelas untuk tiap indikator.
Contoh sederhana untuk nilai Kolaborasi (indikator: “cara menyelesaikan konflik dalam tim”):
- 1 – Sangat tidak sesuai: cenderung menyalahkan orang lain, menghindari diskusi, tidak ada contoh mengelola konflik secara konstruktif.
- 2 – Kurang sesuai: ada contoh konflik, tapi penyelesaian lebih ke kompromi dangkal; masih ada sikap defensif/menyimpan masalah.
- 3 – Cukup sesuai: bisa memberi contoh menyelesaikan konflik dengan diskusi terbuka, meski belum selalu proaktif.
- 4 – Sesuai: memberi lebih dari satu contoh, mampu menjelaskan langkah-langkah menyelesaikan konflik, mempertimbangkan perspektif semua pihak.
- 5 – Sangat sesuai: terbukti berperan sebagai mediator, mengubah konflik menjadi kesempatan perbaikan proses, menjaga hubungan jangka panjang.
Rubric seperti ini membantu HR dan user:
- Mengurangi bias penilaian.
- Memudahkan perbandingan kandidat.
- Menyediakan dokumentasi keputusan jika muncul pertanyaan di kemudian hari.
5. Gunakan Work Sample & Realistic Job Preview (RJP)
Selain interview, work sample dan RJP sangat efektif untuk memvalidasi culture fit secara nyata.
Contoh implementasi:
- Simulasi rapat tim: kandidat mengikuti diskusi singkat (offline/online) dengan calon rekan kerja membahas studi kasus sederhana. Amati cara kandidat mendengar, menyela, menawarkan solusi, dan berkompromi.
- Mini project: berikan tugas kecil yang mirip dengan pekerjaan sebenarnya (misal: menyusun rencana kerja 1 minggu) lalu lihat bagaimana kandidat merespons feedback yang agak kritis.
- RJP terstruktur: jelaskan tidak hanya hal positif, tetapi juga tantangan nyata di perusahaan: ritme kerja, gaya atasan, pola lembur, cara pengambilan keputusan. Minta kandidat merefleksikan: “Bagian mana yang paling cocok dan paling menantang bagi Anda?”
Dengan RJP, HR membantu kandidat menilai dirinya sendiri. Kandidat yang menyadari ketidakcocokan sejak awal cenderung mundur sebelum bergabung, sehingga mengurangi risiko turnover dini.
6. Panel Interview untuk Mengurangi Bias
Satu interviewer saja mudah terjebak halo effect dan similarity bias. Gunakan panel interview (misal: HR + user + calon rekan kerja).
Prinsipnya:
- Semua panel menggunakan daftar pertanyaan yang sama dan mengacu pada rubric yang sama.
- Setiap panelis menilai secara individu terlebih dahulu, baru kemudian berdiskusi.
- Perbedaan skor dijadikan bahan diskusi, bukan sekadar dirata-ratakan tanpa alasan.
Dengan cara ini, penilaian culture fit menjadi lebih kuat dan tidak bergantung pada satu sosok saja.
7. Decision Rule & Dokumentasi
Pada akhirnya, HR perlu menetapkan decision rule yang jelas untuk aspek culture fit:
- Misalnya: “Rata-rata skor culture fit minimal 3,0 dan tidak boleh ada nilai 1 pada nilai Integritas dan Etika.”
- Jika kandidat unggul di kompetensi teknis namun skor culture fit rendah di area krusial, HR dan user perlu mencatat alasan jelas jika tetap memutuskan untuk hiring (dan menyiapkan rencana mitigasi).
Dokumentasi yang baik akan membantu:
- Evaluasi efektivitas metode seleksi (misalnya, korelasi skor culture fit dengan hasil kinerja dan retensi setelah 6–12 bulan).
- Penyesuaian rubric & pertanyaan interview dari waktu ke waktu.
Baca Juga: Validasi Culture Fit untuk Kurangi Turnover 90 Hari
Checklist Praktis untuk HR: Validasi Culture Fit di Proses Seleksi
Berikut checklist ringkas yang dapat langsung digunakan:
- Nilai & perilaku inti
- [ ] Sudah ada 3–5 nilai inti perusahaan yang didefinisikan.
- [ ] Setiap nilai punya indikator perilaku konkret (observable) minimal 3 contoh.
- Mapping budaya tim
- [ ] Setiap hiring memiliki profil budaya tim (subculture) yang jelas.
- [ ] Atasan langsung terlibat dalam mendefinisikan “profil orang yang cocok” di tim.
- Interview guide
- [ ] Sudah tersedia daftar pertanyaan interview culture fit untuk tiap nilai.
- [ ] Interview menggunakan kombinasi pertanyaan perilaku dan situasional.
- Scoring rubric
- [ ] Ada rubric 1–5 untuk tiap indikator dengan anchor perilaku.
- [ ] HR dan user sudah dilatih menggunakan rubric yang sama.
- Work sample & RJP
- [ ] Minimal ada satu bentuk simulasi/mini project dalam proses seleksi.
- [ ] HR selalu memberikan Realistic Job Preview secara konsisten.
- Panel & decision rule
- [ ] Minimal 2 orang (HR + user) terlibat dalam penilaian culture fit.
- [ ] Ada batas skor minimum dan kriteria red flag yang disepakati.
- [ ] Semua hasil dan alasan keputusan terdokumentasi.
Baca Juga: Validasi Culture Fit: Panduan HR Hindari Salah Rekrut
Studi Kasus Singkat: Turnover 90 Hari Turun Drastis
Konteks:
Perusahaan jasa B2B berukuran menengah (±250 karyawan) memiliki turnover 0–90 hari mencapai 28% khusus pada posisi Account Executive. Mayoritas karyawan baru mengundurkan diri dengan alasan “tidak cocok dengan cara kerja sales di sini” dan “tekanan target terlalu tinggi”.
Masalah yang ditemukan:
- Interview lebih fokus pada kemampuan presentasi dan pengalaman sales, hampir tidak menggali cara kandidat merespons tekanan dan konflik dengan klien.
- Tidak ada rubric culture fit; user hanya memberi catatan: “anaknya enak diajak ngobrol, cocok sepertinya.”
- Kandidat hanya mendapat gambaran positif tentang peluang komisi, tanpa Realistic Job Preview mengenai ritme kerja dan ekspektasi follow up.
Intervensi HR:
- HR dan Head of Sales mendefinisikan 3 nilai budaya kritis di tim: ketahanan terhadap tekanan, inisiatif, dan integritas dalam closing.
- HR membuat rubric 1–5 untuk tiap nilai, lengkap dengan contoh perilaku.
- Dirancang pertanyaan interview culture fit khusus, misalnya:
- “Ceritakan saat Anda hampir kehilangan klien penting karena kesalahan dari pihak Anda. Apa yang Anda lakukan?”
- “Pernahkah Anda diminta mengurangi informasi tertentu saat menawarkan produk? Bagaimana Anda menyikapinyaa?”
- Ditambahkan work sample berupa simulasi negosiasi dengan klien yang sulit, dan RJP tentang ritme kerja dan target.
- Penilaian dilakukan oleh panel (HR + Sales Manager), menggunakan rubric yang sama.
Hasil setelah 9 bulan:
- Turnover 0–90 hari untuk posisi Account Executive turun dari 28% menjadi 11%.
- Feedback karyawan baru menunjukkan ekspektasi yang lebih realistis terhadap tekanan kerja.
- Sales Manager melaporkan konflik internal menurun dan koordinasi tim membaik.
Studi kasus ini menunjukkan bahwa validasi culture fit yang terstruktur (rubric + RJP + work sample) dapat menjadi strategi efektif mengurangi turnover karyawan baru secara signifikan.
FAQ: Culture Fit di Era Kerja Modern
1. Apa bedanya culture fit dan culture add?
Culture fit fokus pada kesesuaian nilai inti dan perilaku kerja kandidat dengan budaya organisasi yang sudah ada. Tujuannya adalah memastikan kandidat dapat berfungsi dengan baik di lingkungan saat ini, sehingga risiko konflik nilai dan turnover menurun.
Culture add menekankan bagaimana kandidat dapat menambahkan sesuatu yang belum dimiliki organisasi (misalnya perspektif baru, gaya komunikasi berbeda yang konstruktif), tanpa bertentangan dengan nilai-nilai dasar. Pendekatan ideal adalah:
“Pastikan culture fit pada nilai inti, lalu buka ruang culture add pada gaya dan perspektif.”
2. Apakah culture fit berpotensi diskriminatif?
Bisa, jika digunakan secara salah. Culture fit menjadi diskriminatif ketika:
- Diartikan sebagai “mirip dengan kami” (latar belakang, usia, gaya bicara, hobi), bukan pada nilai dan perilaku kerja.
- Tidak ada indikator perilaku yang jelas dan hanya berdasar perasaan cocok.
Untuk mencegah diskriminasi, HR perlu:
- Menetapkan indikator culture fit yang spesifik, terkait pekerjaan, dan terukur.
- Menggunakan panel interview dan rubric obyektif.
- Memastikan proses seleksi fokus pada nilai & perilaku, bukan ciri pribadi yang tidak relevan.
3. Bagaimana mengukur culture fit untuk tim remote atau hybrid?
Pada tim remote/hybrid, aspek budaya yang penting biasanya terkait kemandirian, disiplin komunikasi, dan kejelasan ekspektasi. Beberapa cara menerapkannya:
- Masukkan indikator seperti: kemampuan mengelola waktu sendiri, kemandirian menyelesaikan masalah, kenyamanan menggunakan alat kolaborasi digital.
- Gunakan simulasi kerja jarak jauh: misalnya, kandidat diminta menyusun rencana kerja mingguan dan menyampaikan update via email atau alat kolaborasi, kemudian lihat bagaimana mereka merespons feedback tertulis.
- Gambarkan RJP khusus untuk pola hybrid/remote: jam respons ideal, budaya meeting online, ekspektasi dokumentasi kerja.
Dengan cara ini, culture fit assessment tetap relevan, meskipun bentuk interaksi berbeda dari kerja full onsite.
Penutup: Saatnya HR Mengaudit Proses Seleksi Culture Fit
Turnover 0–90 hari sering kali berakar pada mismatch budaya yang sebenarnya bisa dideteksi lebih awal. Dengan memanfaatkan prinsip person–organization fit, value congruence, dan Realistic Job Preview, HR dapat merancang proses seleksi yang lebih obyektif, terukur, dan selaras dengan strategi bisnis.
Mulailah dengan mengaudit proses seleksi saat ini: apakah nilai dan perilaku inti sudah diterjemahkan ke pertanyaan interview, rubric scoring, dan work sample yang jelas? Jika belum, inilah momen yang tepat untuk membangun template scoring rubric culture fit yang terstandar di seluruh organisasi.
Selain wawancara dan asesmen perilaku, HR juga dapat mempertimbangkan metode pelengkap untuk memahami karakter kandidat secara lebih menyeluruh, termasuk pendekatan psikologi terapan seperti mengenali karakter kandidat lewat tulisan tangan sebagai bahan pertimbangan tambahan dalam proses seleksi.
Baca juga artikel kami tentang desain asesmen kompetensi berbasis perilaku dan panduan membuat interview guide terstruktur untuk memperkuat peran HR sebagai mitra strategis bisnis.